iklan jual beli mobil

Truk EV Mulai Dilirik Tambang, GM Mobil Ungkap Penghematan hingga 80 Persen

OTOJATIM – Harga solar yang terus menjadi beban dalam operasional kendaraan tambang mulai membuat truk listrik masuk hitungan. PT Gaya Makmur Mobil (GM Mobil) melihat peluang tersebut semakin terbuka, terutama untuk kendaraan yang bekerja dengan rute tetap dan jarak operasi terbatas.
truk EV tambang
Truk listrik GM Mobil untuk kebutuhan operasional tambang, offroad, petikemas. Ki-ka Marcom Head Gaya Makmur Mobil Rudolf Ang Dinata bersama Direktur Utama Gaya Makmur Mobil Frankie Makaminang.
Direktur Utama PT Gaya Makmur Mobil, Frankie Makaminang, mengatakan peralihan menuju truk listrik mulai terasa dari permintaan pelanggan. Sektor pertambangan menjadi salah satu yang paling menarik karena kendaraan dapat beroperasi pada jalur dan area yang relatif terukur.

Menurut Frankie, salah satu pertimbangannya sederhana: biaya energi.

Ia menceritakan pengalaman seorang pelanggan tambang di Kalimantan Selatan yang sebelumnya mengeluarkan biaya solar sekitar Rp30 jutaan per truk setiap bulan. Setelah menggunakan truk listrik, biaya tersebut disebut turun menjadi sekitar Rp5 juta hingga Rp6,5 juta.

“Saving-nya sudah 70–80 persen dari biaya solar-nya. Itu dikali truck-nya dia ada 20,” kata Frankie saat ditemui dalam Grand Opening GM Mobil Surabaya, Jumat (2/10/2026).

Hitung-hitungan seperti itu membuat kendaraan listrik mulai dilihat bukan semata dari sisi teknologi, tetapi dari kemampuan memangkas biaya operasional.

GM Mobil sendiri saat ini telah memasukkan truk listrik dalam lini produknya. Pada pameran Mining Indonesia 2026, perusahaan juga menampilkan beberapa model EV seperti XCMG XT370DT, XT490DT, XT490TH dan XT150CD.

Solar Mahal Jadi Pemicu
Bagi perusahaan tambang, konsumsi energi merupakan salah satu komponen biaya yang terus dihitung. Apalagi kendaraan harus bekerja dalam durasi panjang dan membawa beban berat.

Frankie mengatakan kondisi tersebut membuat pelanggan mulai membandingkan biaya penggunaan truk diesel dengan kendaraan listrik.

“Sekarang sudah mulai shifting ke yang EV. Apalagi kalau harga solar Rp18.000, ada yang di satu site saya baru dengar Rp23.000,” ujarnya.

Dalam kondisi seperti itu, selisih biaya energi menjadi semakin besar.

Namun, truk listrik belum bisa menggantikan semua kendaraan diesel. Frankie mengakui keterbatasan utama saat ini berada pada jarak operasi.

Truk EV lebih cocok digunakan di lokasi yang memiliki rute terukur, seperti area tambang tertentu atau kawasan operasional tertutup.

“Memang cuma kelemahannya jarak aja. Daerahnya masih tertentu, jadi makanya cuma bisa beroperasi di daerah tertentu,” kata Frankie.
Truk listrik XCMG yang dipasarkan GM Mobil
Ia mencontohkan penggunaan truk listrik di area tambang dengan jarak sekitar 50 kilometer untuk perjalanan pergi-pulang. Pola operasi seperti itu lebih mudah disesuaikan dengan kemampuan baterai dibandingkan truk yang harus menempuh perjalanan antarkota.

Dari Tambang hingga Terminal Peti Kemas
Peluang truk listrik ternyata tidak hanya datang dari sektor pertambangan.

GM Mobil juga baru melakukan serah terima unit EV untuk digunakan di Terminal Peti Kemas Surabaya (TPS).

Karakter operasinya berbeda dengan kendaraan logistik yang harus menempuh perjalanan jauh. Truk bekerja di area terminal sehingga kebutuhan jarak tempuh lebih mudah diprediksi.

Kondisi seperti inilah yang membuat kendaraan listrik lebih masuk akal untuk tahap awal elektrifikasi kendaraan niaga.

Menurut Frankie, jarak operasi truk listrik bisa berbeda-beda tergantung kapasitas baterai, muatan dan pola penggunaannya. Untuk kondisi tertentu, kendaraan dapat digunakan hingga ratusan kilometer, tetapi perhitungan tersebut tetap harus disesuaikan dengan beban dan kebutuhan operasional.

Artinya, perusahaan tidak bisa sekadar mengganti truk diesel dengan EV tanpa menghitung pola kerja armadanya.

Bukan Sekadar Soal Harga Solar
Bagi pengusaha angkutan, keputusan membeli truk listrik pada akhirnya kembali kepada hitungan bisnis.

Harga unit, kapasitas baterai, jarak tempuh, waktu pengisian, beban angkut serta ketersediaan fasilitas pengisian menjadi bagian yang harus dihitung sejak awal.

Karena itu, GM Mobil melihat truk EV lebih cocok untuk segmen tertentu terlebih dahulu.

“Kalau pakai EV dia saving 70 persen dari biaya solar setiap bulannya,” kata Frankie.

Di sisi lain, pengalaman penggunaan kendaraan listrik di sektor tambang juga menunjukkan bahwa efisiensi energi baru terasa maksimal jika karakter pekerjaan memang sesuai dengan kemampuan kendaraan.

GM Mobil pun mulai memperluas pilihan kendaraan listriknya. Selain unit untuk kebutuhan berat, perusahaan juga membawa truk EV berukuran lebih kecil yang dapat diarahkan untuk kebutuhan operasional di kawasan perkotaan. Portofolio EV tersebut melengkapi produk truk konvensional FAW dan XCMG yang sudah lebih dahulu dipasarkan.

Bagi GM Mobil, pergeseran ini menjadi salah satu arah baru pasar kendaraan niaga. Diesel masih memiliki ruang yang luas karena mampu melayani perjalanan jauh dan berbagai kondisi operasi.

Namun, ketika sebuah truk hanya berputar di area tambang atau terminal dengan rute yang sudah ditentukan, biaya energi membuat kendaraan listrik mulai punya alasan kuat untuk masuk dalam perhitungan pengusaha.

Pada akhirnya, truk EV bukan soal mengganti seluruh armada sekaligus. Untuk saat ini, kendaraan listrik justru mulai mencari tempat di pekerjaan yang paling cocok dengan karakter dan kemampuan baterainya.
LihatTutupKomentar
close
harga yamaha nmax turbo